ETEKEWEK

Kata ini sering kali saya dengar. Ketika pertama kali mendengarnya aneh. Selalu keluar dari mulur seorang kepala sekolah saat briefing di ruang guru. Sebuah kata yang sulit dicari padanan katanya dalam kamus besar Bahasa Indonesia.

Kata etekewek justru menarik bagi saya untuk dijadikan sumber inspirasi. Akhirnya saya nekat, kata tersebut saya jadikan judul tulisan. Ya, etekewek yang volume ketersampaiannya kepada kami guru di sebuah sekolah di bilangan Pondok Indah Jakarta Selatan. Bukan sekolah terkenal tetapi sekolah luar biasa!

Etekewek lebih merujuk pada perilaku guru dalam merespon sikap siswa. Perilaku ini sering ditunjukkan terutama oleh guru yang diamanahkan menjadi wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Namun demikian ada juga guru yang memang tingkat kepeduliannya tinggi di bidang kedisiplinan.

Setiap pagi di sekolah ini sebagian guru secara rutin menyambut siswa di depan pin tu gerbang. Sebuah tradisi yang sudah lama terbangun. Nilai positifnya, terjalin komunikasi yang efektif antara siswa dengan guru, guru dengan guru, guru dengan orang tua siswa. Pagi yang indah diawali dengan senyuman manis para guru dan sunggingan seulas senyum dari para siswa. Biutipul bet!

Biasanya ditengah komunikasi dalam penyambutan terjadi dialog spontan antara guru dengan siswa. Dialog yang sering lebih kepada teguran guru kepada siswa mulai dari rambut yang gondrong, baju siswa putrid yang sempit, tidak memakai ikat pinggang, alasan bila siswa hari kemarin tidak hadir dan seterusnya yang terkait dengan pelanggaran. Begitulah kira-kira. Namun demikian, ada juga dialog ringan yang bersifat serius juga senda gurau baik dari guru maupun siswa. Kesannya untuk mencairkan suasana dan mengakrabkan mereka.

Perilaku guru mana yang disebut etekewek?

Biasanya etekewek ditunjukkan oleh perilaku guru yang terkesan cerewet terhadap sikap dan tingkah siswa yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah. Guru yang super cerewet dan tidak bisa tinggal dianm atas pelanggran siswa inilah yang dimaksud oleh kepala sekolah saya disebut guru etekewek. Kesan yang timbul guru tersebut galak, bagi sebagian siswa malah timbul kesan cari muka. Namun sesungguhnya apa yang dilakukan sudah sesuai “trek” sekolah. Hanya saja ada beberapa guru yang terkadang berlebihan dalam menyikapinya. Karenanya muncul dikalangan siswa praduga seperti itu.

Sesungguhnya menanamkan sikap kedisplinan adalah penting. Namun penanaman sikap disiplin yang keras dan berlebihan di sekolah akan membuat pembangkangan diam-diam. Pembangkangan diam-diam oleh siswa bias saja suatu saat akan meletup. Persuasif? Sangat perlu. Penanganan yang tepat dan konsisten juga sangat ditekankan. Nah, saat penanganan yang tidak tepat sementara yang keluar dari mulut guru meragukan eksistensi siswa bahkan terkadang merendahkan akan mengakibatkan penolakan yang keras dari mereka. Peristiwa ini pernah terjadi di sekolah keren tempat saya mengabdi.

Menyikapi kondisi demikian menurut saya yang perlu dilakukan adalah mengurangi perilaku etekewek yang berlebihan, mulai melakukan pendekatan pesuasif namun tetap tegas, konsisten secara bersama-sama menegakkan aturan sekolah. Perilaku yang lebih penting dari itu semua adalah keteladanan selain mengayomi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s