Sekolah Yang Memerdekakan

You are

Manusia telah ditakdirkan dengan beragam bakat yang dibaw sejak lahir. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika perkembangan dunia kini menjadi begitu pesat secara teknologi, sosial, politik dan budaya. Bakat yang diberikan Allah itulah yang menjadi salah satu sumber majunya peradaban saat ini.

Tentu hal itu pula yang menjadi hikmah untuk kita renungkan, bahwa Allah tidak main-main dan tidak mempermainkan manusia sebagai ciptaannya. Lantas mengapa ada sebagian dari kita justru mempermainkan ciptaanNYA. Karena saya berada pada lingkungan pendidikan, maka kata mempermainkan tersbut tentu sangat erat kaitannya dengan pendidika ebih sempit lagi sekolah.

Dunia sekolah seharusnya menjadi kawah candradimuka bagi anak-anak usia sekolah yang dapat menunjang bakatnya. Sekolah menjadi tempat yang dpat membantu mengembangkan bakat yang telah dibawanya sejak lahir. Namun kenyataannya  terjadi indoktrinisasi bahwa kepandaian anak diukur dengan angka. Angka berarti menunjukkan materialisme karena harus terbentuk secara fisik. Kepandaian harus terlihat secara fisik dalam wujud angka. Anak yang pandai secara sosial, budaya, kinestetis dianggap tidak pandai. Masih terjadi? Tengoklah sendiri ke sekolah-sekolah Indonesia, tengoklah kurikulumnya.

Sekolah seperti penjara bagi bakat anak-anak karena “kepandaian” mereka terabaikan. Beragam tugas sesuai dengan tuntutan kurikulum membelenggu kebakatan mereka. Tidak heran saat lulus sekolah, terutama jenjang SMA kebingungan dalam memilih jurusan untuk  melanjutkan pendidikannya. Guru memang tidak dibekali untuk mendeteksi bakat yang dimiliki anak, sementara orang tua juga tidak bisa membantu sepenuhnya apa sebenarnya bakat anaknya. Tidak jarang malah anak dilabeli siswa bengal, siswa bodoh dan seterusnya dengan label negatif.

Sementara kurikulum juga menjauhkan anak dari bakatnya. lihatlah kurikulum 2013 dengan segala rincinya menenggelamkan bakat anak. Tetap tuntutannya nilai! Anak yang  mengikuti ekstra kurikuler dengan serius yang kadang mengabaikan materimkurikulum dianggap anak tidak patuh, bengal, maunya sendiri padahal kebutuhan pendidikannya justru ekstrakuriluer tersebut. Jadi, sangatlah tidak imbang kalau tidak boleh dikatakan tidak adil bahwa kurikulum yang ada di Indonesia yang telah banyak berganti tetap fokus tuntutannya pada angka bukan usaha-usaha kongkret yang diharapkan dapat membantu mengembangkan bakat anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s