Pembunuh TUHAN adalah KITA : Refleksi Harkitnas

Stephen Hawkins dan para atheis kurang lebih menyatakan bahwa kini manusia tidak lagi membutuhkan Tuhan sebagai pencipta. Alam dan penciptaan seisinya dapat diprediksi, dikalkulasi oleh ilmu pengetahuan. Tuhan kita adalah ilmu pengetahuan, alam dan seisinya ada begitu saja tanpa pencipta yang disebut TUHAN.

Sesungguhnya konsep mematikan keberadaan Tuhan sudah lama terjadi dan pelopornya adalah seorang filosof Eropa, Friedrich Wilhelm Nietzsche tokoh filsafat post-modern.

Manusia adalah jembatan belaka antara binatang dan manusia unggul.Demikianlah terjemahan dari quote Nietzsche diatas. Quote tersebut ia tulis dalamThus Spake Zarathustra, sebuah karya yang konon katanya merupakan karya paling agung yang pernah ia tulis, bahkan menurutnya, tidak akan pernah ada yang menandinginya. Karya tersebut berisi perjalanan, percakapan-percakapan, dan perenungan pemikiran seorang tokoh yang ia namai Zarathustra. Salah satu kalimat yang paling terkenal yang Nietzsche tulis dalam Thus Spake Zarathustra adalah God is dead!

DSCF8850

Perjalanan panjang teori ini meski belum sampai pada titik kulminasi telah menorehkan beribu bahkan beratus catatan dengan berbagai peristiwa yang menandainya. Jika saja kita mau jujur terlampau banyak catatan yang kita buat baik secara individual maupun komunal tentang terpinggirkannya posisi TUHAN dalam kehidupan manusia.

TUHAN menjadi penonton dalam pendidikan Indonesia!

Benarkah TUHAN telah menjadi penonton dalam dunia pendidikan Indonesia. Bukankah ada pelajaran agama dalam berbagai kurikulum yang ditetapkan pemerintah? Atau hampir di setiap pelosok tanah air ada banyak pesantren dengan berbagai tipe, mulai yang tradisional sampai yang modern dan didalam kurikulumnya tentu saja bersandar kepada satu kata : TUHAN sebagai tujuan utamanya? Tengoklah hampir di setiap sekolah pasti ada mushollah atau masjidnya sebagai sarana dan media pembelajaran agama Islam. Begitu juga di sekolah-sekolah katolik dan protestan selalu dibangun gereja dikompleks sekolah mereka. Bangsa ini sangat relijius, jadi omong kosong kalau kita telah mematikan TUHAN dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejarah telah cukup membuktikan itu semua!!! Argumen apalagi yang hendak dijadikan alasan untuk membenarkan hipotesa bahwa Pembunuh TUHAN adalah KITA?

Cobalah berfikir jernih dan jangan dicampur aduk dengan emosi. telitilah dengan sangat seksama kurikulum yang baru saja dihentikan secara parsial, kurikulum 2013. Sangat mengutamakan kerelijiusitasan bukan? Kompetensi Inti menggambarkan keutamaan akan pendidikan reliji. Semua mata pelajaran harus menghubungkan materinya dengan keberadaan TUHAN.

Benarkah dalam implementasinya setiap pelajaran selalu menghubungkan matei pelajarannya dengan keberadaan TUHAN? Tanyalah pada guru-guru Indonesia, semoga benar adanya mereka selalu menyelipkan TUHAN dalam setiap mengajar dan mendidik siswa-siswanya. Bukankah dalam setiap kesempatan atau awal pelajaran, minimal jam pertama guru selalu memulainya dengan berdoa. Ada banyak sekolah-sekolah yang memulai belajar dengan diawali dengan tadarusan dan kebaktian. Lantas, mau mendebat dengan apa lagi kalau posisi TUHAN tetap dinomorsatukan dalam setiap pendidikan, sekolah baik dari dasar hingga tingkat menengah atas.

Sekolah-sekolah baru saja melaksanakan hajatan besar, Ujian Nasional. Tentu sebagian besar tahu jalan ceritanya.Setting cerita pendek yang berjudul Ujian Nasional, terutama tingkat menengah atas selalu dimulai dengan kegaduhan. Alur cerita  yang selalu terulang tiap tahunnya, kebocoran soal, bahkan tahun ini banjir bukan cuma bocor. Tahunsebelumnya dengan 20 paket kunci jawaban yang beredar, tetapi tahun ini bukan hanya kunci jawaban bahkan soalnya yang menyebar luas melalui dunia maya. Lantas, dimana posisi TUHAN?

Guru-guru yang sejatinya adalah manusia mulia justru ada yang membantu memberikan kunci jawaban kepada anak didiknya yang sedang bertempur. Pertempuran yang seharusnya dilakukan oleh mereka, para siswa, justru yang bertempur malah sebaliknya para guru dan orang tua. Demi menjaga nama baik sekolah, daerah bahkan provinsi katanya. Lantas dimana posisi TUHAN?

Apa yang telah guru ajarkan selama kurang lebih tiga tahun dibangku sekolah kalau pada akhirnya runtuh oleh sepenggal kisah bernama Ujian Nasional? Tapi gambaran ini bukan menggenaralisir semua insan pendidikan, masih banyak sekolah yang menomorsatukan TUHAN di hati mereka. Karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Setiap sekolah negeri mendapatkan dana bantuan operasional sekolah, kabar burung setiap sekolah harus menyetorkan sekian persen untuk pejabat terkait. Jika ini benar, lantas dimana posisi TUHAN?  Belum lagi pengadaan barang untuk sekolah sekolah negeri, terbukti ternyata dimarkup oleh oknum pejabat, dan yakinlah bukan cuma satu orang yang menikmatinya.

Jadi benarkah kita yang membunuh TUHAN sehingga bangsa ini terus saja berada pada posisi seperti sekarang. Optimis selalu harus dikedepankan bahwa TUHAN tidak pernah tidur bagi hamba-hambanya yang mau berjuang, optimistis dan melangkahkan kaki sesuai dengan perintah TUHAN. kita memang tidak boleh membiarkan pikiran kotor kita untuk menyingkirkan tuhan dalam setiap detik kehidupan manusia. Percayalah pada TUHAN bahwa kita bisa bangkit dengan pertolonganNya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s