Taman Yang Paling Indah

Taman yang paling indah, hanya taman kami
Taman yang paling indah, hanya taman kami

Sebuah lagu masa kecil yang sering dinyanyikan oleh kebanyakan anak usia taman kanak-kanak. Lagu sederhana liriknya juga teramat sederhana namun mempunyai makna mendalam.

Sebuah taman yang indah tentu sangat enak untuk dipandang. Sangat manusiawi jika seseorang bahkan semua orang menyukai keindahan. Taman dengan bunga yang bermekaran dan luas,mengundang berbagai jenis kupu-kupu untuk menghisap saripati bunga yang bermekaran. Ada prinsip, simbiosis mutualisme yang tersirat.Tempat bermain yang menyenangkan tentunya bagi anak-anak,bahkan orang dewasa dapat bersantai menikmati pemandangan seperti itu. Jadi, sangatlah wajar jika banyak tempat-tempat wisata selalu ada tamannya sebagai salah satu daya tarik wisatawan.

Mungkin itu pulalah, menurut saya, mengapa Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, menamai sekolah yang didirikannya dengan sebutan “Taman Siswa”. Sebuah taman yang dapat melentingkan kecerdasan siswanya.Sebuah taman yang membuat siswa enggan untuk beranjak pulang karena disana teramat banyak tempat yang menyejukkan, membangkitkan imajinasi, nyaman untuk sekedar berleha-leha sambil membaca karya-karya besar para ilmuwan,sejarahwan, sastrawan atau berdialog secara imajiner dengan mereka.Taman yang dengannya melahirkan banyak pemimpin bangsa. Harapan yang tinggi dan sangat mulia untuk tidak diindahkan.

Hari ini kita memperingati hari Pendidikan Nasional, 2 Mei, yang menurut sejarah adalah hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Sebuah pertanyaan sederhana sudahkah kita menjadikan taman “bermain” yang menyenangkan bagi anak bangsa ini dalam rumah besar pendidikan? sudahkah sekolah yang dibangun menjadi taman yang indah yang dapat membangkitkan selera hidup anak bangsa ini? Pertanyaan sederhana ini dapat dijawab dengan beragam persepsi tentunya.

upacara

Rasanya tidak salah jika Anis Baswedan dalam sambutannya menyatakan bahwa :

Kata kunci dari tema tersebut adalah “Gerakan”. Pendidikan harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa. Karena itu pendidikan tidak bisa dipandang sebagai sebuah program semata. Kita harus mengajak semua elemen masyarakat untuk terlibat. Kita mendorong pendidikan menjadi gerakan semesta, yaitu gerakan yang melibatkan seluruh elemen bangsa: masyarakat merasa memiliki, pemerintah memfasilitasi, dunia bisnis peduli, dan ormas/LSM mengorganisasi. Berbeda dengan sekadar “program” yang perasaan memiliki atas kegiatanhanya terbatas pada parapelaksana program,sebuah “gerakan” justru ingin menumbuhkan rasamemiliki pada semua kalangan.Mari kita ajak semua pihak untuk merasa peduli, untuk merasa memiliki atas problematika pendidikan agar semua bersedia menjadi bagian dari ikhtiar untukmenyelesaikan problematika itu.

Untuk membangun sebuah taman yang indah memang bukan perkara gampang. Ada banyak faktor yang membuat taman tersebut mejadi indah. Membangunnya memerlukan sinergi yang intens, kontinyu, keikhlasan berbagi, komitmen, perencanaan yang matang, konsep yang jelas dan kuat, orang-orang yang terlibat didalamnya mempunyai integritas akhlak dan intelektual yang baik. Tentu saja pembiayaan yang tidak sekedar dihitung tetapi pengelolaan yang transparan dan teranggarkan secara komprehensif, detailnya jelas.

Sebuah ajakan yang baik untuk menjadikan “taman” sebagai sebuah gerakan bersama oleh Anis Baswedan. Seperti pernyataan beliau beberapa waktu lalu bahwa pendidikan Indonesia dalam kondisi gawat darurat. Fenomena yang tidak bisa dipungkiri memang kenyataannya demikian. Ditengah kepungan pengaruh bangsa lain yang luar biasa kita sebagai bangsa mesti menyadari sepenuhnya bahwa pendidikan kita sangatlah memprihatinkan. Di satu sisi kita bangga dengan prestasi-prestasi anak bangsa yang mendunia melalu berbagai ajang olimpiade internasional, tetapi disisi lain sangat kompleksnya permasalahan pendidikan di Indonesia yang tidak terkelola dengan baik mengakibatkan rendahnya kualitas hidup dan pendidikan bangsa.

Masih menurut Anies, mengapa pendidikan kita gawat darurat, ada beberapa poin yang menggambarkan kondisi tersebut antara lain :

1. Sebanyak 75 persen sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan.
2. Nilai rata-rata kompetensi guru di Indonesia hanya 44,5. Padahal, nilai standar kompetensi guru adalah 75.
3. Indonesia masuk dalam peringkat 40 dari 40 negara, pada pemetaan kualitas pendidikan, menurut lembaga The Learning Curve.
4. Dalam pemetaan di bidang pendidikan tinggi, Indonesia berada di peringkat 49, dari 50 negara yang diteliti.
5. Pendidikan Indonesia masuk dalam peringkat 64, dari 65 negara yang dikeluarkan oleh lembaga Programme for International Study Assessment (PISA), pada tahun 2012. Anies mengatakan, tren kinerja pendidikan Indonesia pada pemetaan PISA pada tahun 2000, 2003, 2006, 2009, dan 2012, cenderung stagnan.
6. Indonesia menjadi peringkat 103 dunia, negara yang dunia pendidikannya diwarnai aksi suap- menyuap dan pungutan liar. Selain itu, Anies mengatakan, dalam dua bulan terakhir, yaitu pada Oktober hingga November, angka kekerasan yang melibatkan siswa di dalam dan luar sekolah di Indonesia mencapai 230 kasus.

Terlepas dari permasalahan tersebut di atas, faktor terpenting adalah guru. Ya, guru! Poin nomor 2 hanyalah gambaran lain dari persolan kualitas guru. Kualitas guru tidak hanya dilihat dari nilai yang dicapai dalam tes bernama Uji Kompetensi Guru. Lebih dari itu, mampukah guru bersikap selayaknya guru yang dapat menjadi tempat bertanya, berdiskusi dan contoh yang perlu ditiru keteladanannya baik dari sisi profesional maupun akhlaknya. Guru yang mampu menjadikan sekolah sebagai taman yang indah. Kita tidak melihat lagi anak usia sekolah keluyuran pada jam belajar karena tidak betah di sekolah, mereka lebih betah di warnet-warnet atau tempat tongkrongan mereka.

Harapan di hari bersejarah ini, semoga sekolah-sekolah ke depan dapat menjadi taman yang menyenangkan untuk bunga-bunga yang akan bermekaran membangun kemajuan bangsa ini.

Selamat Hari Pendidikan, Indonesia!

sumber tulisan :

http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/sites/default/files/Sambutan%20Mendikbud%20untuk%20Hardiknas%202015.pdf

Advertisements

8 thoughts on “Taman Yang Paling Indah

  1. Karena sepotong bait lagu taman yang paling indah, hanya taman kami, membuat saya untuk terus dan terus mrmbaca tulisan bapak, salam kenal pak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s