Saat Kita Kehilangan Logika

Bebarapa waktu yang lalu saya menulis mengenai Kakus pada sebuah blog spesial kebetawian asal saya dilahirkan. Dan, tulisan itu kini menjadi sebuah kenyataan meskipun belum memenuhi validitas jika dalam sebuah penelitian.

Bangsa Indonesia, dalam sosiologi sebagian besar masyarakatnya menganut paham paternalistik. Sebuah paham sosial yang menggambarkan segala keputusan dan keteladanan mengikuti garis ayah atau pemimpinnya. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, paternalistik sistem kepemimpinan yang berdasarkan hubungan antara pemimpin dan yg dipimpin, seperti hubungan antara ayah dan anak.

Perilaku pemimpin menjadi cermin yang dicontoh masyrakat yang dipimpinnya. Model kepemimpinan ini sebenarnya terjadi pada masyarakat yang masih tradisional kebudayaannya. Namun mengapa ini justru tejadi pada bangsa kita yang notebene sudah cukup maju peradabannya, bahkan menuju modern?

Hal ini juga masih berlaku di dunia pendidikan tentunya. Tetapi seperti yang saya utrakan dalam kakus bahwa usaha-usaha yang dilakukan oleh komunitas pendidikan (baca : guru) seakan sia-sia setelah terjadinya fenomena “pertengkaran” yang sengaja atau tidak sengaja telah menularkan virus baru. Virus itu di sekolah seperti yang saya lakukan meski terbatas dengan mengurangi melontarkan kata-kata tidak pantas untuk diucapkan.

Bahkan dengan lantang kini sebagian dari mereka (baca : masyarakat) ikut-ikutan bersuara dengan kata-kata tersebut meskipun mereka berasal dari kalangan terpelajar. Di bawah ini hanya contoh fenomena tersebut dari banyak peristiwa :

Screenshot_26

Kebanggaan terhadap pemimpin yang seharusnya perlu dikritik karena perilakunya tidak sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan dan norma masyarakat. Justru faktanya itulah yang terjadi sebagian dari kita sangat mengaggungkan pemimpinnya yang berkelakuan buruk dan tidak patut dicontoh. Seolah kehilangan akal sehat!

Screenshot_27

Fenomena ini bisa jadi mata rantai dari sistem yang terbangun sehingga melahirkan pemimpin-pemimpin yang berintelektual namun miskin budi pekerti. Pada akhirnya dapat kita lihat efeknya dengan bermunculannya wajah-wajah maling uang rakyat ditelevisi, opera sabun anggota dewan yang urakan dan kepala-kepala daerah yang sok kuasa dan gampang mengeluarkan bahasa kasar dan menjijikkan.

Nampaknya sekolah harus lebih bekerja lebih keras lagi untuk mendidik anak bangsa melihati berbagai peristiwa yang terjadi berkaitan dengan akhlak dan penghancuran karakter bangsa yang dikenal ramah dan santun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s