Tadarusan di Sekolah : Tradisi yang baikkah?

Sekitar satu dekade yang lalu, saat saya masih dianggap orang baru di sekolah tempat saya mengabdikan diri sebagai guru, saya pernah mengusulkan beberapa kegiatan. Kegiatan yang saya usulkan berkaitan dengan penanaman dan peningkatan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata’ala yakni tadarusan sebelum jam pelajaran dimulai, kebaktian bagi siswa nasrani dan pemakaian seragam khas betawi setiap hari jumat

Usulan ini saat itu dianggap aneh, ada kecurigaan penetrasi ajaran islam di sekolah beratribut sekolah nasional. Saya menjelaskan bahwa usulan tersebut didasari atas keinginan membiasakan  membaca qur’an sekaligus mendeteksi sedini mungkin siswa-siswa yang tidak bisa membaca qur’an. Kedua, menanamkan sikap toleransi antar umat beragama dalam waktu yang bersamaan sama-sama beribadah. Ketiga, usulan saya menanamkan sikap cinta budaya dan tradisi kearifan lokal dengan memakai busana khas betawi. Sayangnya, kecurigaan atas islamisasi lebih besar ketimbang niat membangun karakter yang baik untuk siswa sehingga usulan ini ditolak baik oleh pimpinan sekolah saat itu, termasuk guru agama Islam sendiri yang lebih bersikap hati-hati takut dibilang islamisasi.

10391425_10204939362341879_9162557378426830303_n

Kini setelah lebih dari satu dekade suasana yang pernah saya bayangkan tersebut telah menjadi kenyataan. Suasana yang pernah saya idam-idamkan, pagi yang tenang menyenangkan, siswa semua khusyu mengikuti lantunan ayat-ayat suci didampingi guru-guru. Sementara di ruang lain, terdengar senandung yang dinyanyikan siswa-siswa nasrani dalam kebaktian. Harmoni yang terbangun menggambarkan toleransi yang perlu terus ditanamkan. Inilah esensi usulan saya waktu itu yang sempat ditolak. Membangun kesadaran melaksanakan ajaran agama adalah hal yang perlu  dilakukan ditengah gempuran budaya asing terutama via medsos.

10622822_10204939353381655_3369288977863358276_n

Sejalan dengan program pemerintah melalui kurikulum yang sedang digodok kembali, penanaman kecintaan kepada Allah Subhanahuwata’ala melalui berbagai kegiatan yang bersifat kerohanian baik formal di dalam kelas atau acara-acara hari besar maupun informal seperti tadarusan.

Ini salah satu testimoni yang disampaikan oleh alumni atas kegiatan tadarusan yang telah berlansung cukup lama di sekolah saya.

Screenshot_15Semoga kondisi batin seperti di atas juga dirasakan oleh komunitas pendidikan disekolah-sekolah yang melaksanakan program sejenis. Bagaimana sekolah anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s