Mengasah Kemampuan Membuat Soal

Setiap guru selain dituntut mengajar yang benar dan baik, juga harus mampu membuat soal untuk tes dengan baik. Soal yang baik artinya secara kualitas memenuhi standar penulisan soal yang benar seperti sesuai standar kompetensi, indikator kompetensi, bahasa indonesia yang baku, mudah dimengerti dan berlaku umum terutama pemilihan kata. Benar artinya harus melalui uji coba untuk mengukur tingkat kesukaran, daya pembeda dan validitas soal.

Sebagai guru sering kali kita melupakan prosedur dalam pembuatan soal yang berujung pada tidak validnya soal tersebut. Atau soal tersebut menjadi mubazir disebabkan beberapa hal sebagai akibat tidak prosedural dalam penulisannya. Efek itu antara lain pertama, tidak sesuainya soal yang diujikan dengan tuntutan kompetensi sesuai kurikulum. Kedua, siswa tidak paham maksud soal tersebut sehingga siswa tidak mampu menjawabnya. Ketiga, hasilnya bisa ditebak bahwa nilai siswa tidak memenuhi standar ketuntasan. Untuk yang ketiga meskipun tidak selalu soal yang menjadi penyebabnya, namun soal dapat berperan atas ketidaktuntasan siswa.

Contoh yang paling sering kita lakukan adalah pada ulangan harian. Jarang sekali guru merancang soal dengan lengkap bahkan terkesan asal-asalan (termasuk saya, hehehe nyadar juga sih). Hari itu dilaksanakan ulangan atau tes, detik-detik menjelang ulangan baru kita membuat soalnya.

1w1qKasus lain, kebanyakan di sekolah plat merah, saat mengadakan ulangan akhir semester atau UAS. Sering saya mengamati rekan-rekan membuat soal terlebih dahulu baru kemudian membuat kisi-kisi dan kartu soal. Bayangkan, betapa pekerjaan yang seharusnya tertib, analoginya kalau seorang muslim berwudhu, tidak mengikuti urutannya kan tidak syah! Begitu pula guru kalau membuat soal tes untuk sebuah ulangan setingkat ulangan akhir semester. luar biasa kacaunya bukan?

Mulai hari ini, saat saya mengikutipelatihan merancang soal dan penilaian hasil belajar, tidaklah salah mengajak rekan-rekan guru untuk selalu prosedural dalam melakukan perancangan soal agar tidak keluar dari rel kompetensi yang terdapat dalam kurikulum.

Proses tersebut layak diperhatikan dan dilaksanakan agar kita menjadi terbiasa berjalan pada track yang benar. Dengan demikian kita  dapat berharap tes yang dibuat memenuhi standar soal yang baik dan benar, teruji validitas dan reliabilitasnya.

1e1rKita memang harus selalu mengasah kemampuan merancang soal, sahabat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s