Titik Lemah K13 : Penilaian!

Sore ini suara riuh sahabat-sahabat guru disekolah sangat meriah, tidak biasanya memang kalau sore ini guru-guru berkumpul dan berjamaah melakukan pengisian penilaian berbasis komputer ini. Maklumlah karena tidak terbiasa, jadi masih gagap bagaimana cara memulai dan memformat penilaian yang sebenarnya sudah disediakan dalam program SIP ini. Yah, program raport yang digunakan oleh dinas pendidikan DKI Jakarta bernama SIP untuk menyesuaikan dengan kurikulum 2013. SIP merupakan kepanjangan dari Sistem Informasi dan Penilaian.

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah (meminjam istilah beken seorang guru PKn) mengapa dinas pendidikan DKI Jakarta menggunakan SIP adakah standar pemakaian nasional agar semua raport hasil belajar siswa seluruh Indonesia sama?

Apa kelebihan SIP dibanding dengan program lainnya? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul saat saya bersama sahabat-sahabat menginput materi dan nilai hari ini.

Setiap program yang dibuat tentu tujuannya memudahkan penggunanya agar waktu lebih efisien, tidak ribet dan cepat dipahami. Selain itu dengan SIP, guru tidak perlu lelah menuliskan rincian materi diraport yang memerlukan pemikiran agar tidak salah mengomentari dan tulisan guru pun harus bagus. Nah, kaitannya dengan tulisan guru belum tentu bagus kan?

Ada sisi kelemahan yang harus segera diperbaiki. Pertama, konten kurikulum yang tidak sesuai dengan materi silabus yang dibuat oleh kementrian pendidikan. Di bawah ini dapat dilihat tampilan materi di SIP dengan contoh mata pelajaran ekonomi kelas X.

sip

Kedua, berkaitan dengan rentang penilaian yang tidak sesuai dengan permendiknas no. 104 tahun 2014. Hal ini harus dikalrifikasi dengan benar dan jelas mengapa demikian agar tidak ada yang dirugikan. Selain membingungkan guru juga diharapkan ini tidak terjadi dobel kebijakan atau ketidaksesuaian antara pemerintah pusat dan daerah.

sip

Riuhnya ruangan multi media atau lebih tepatnya laboratorium komputer kini telah sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 saatnya guru-guru kembali ke rumah, guyonan sahabat-sahabat sesuai tupoksi tidak boleh dilebih-lebihkan.

Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan bagi pemegang kebijakan di tingkat provinsi. Segera ditanggapi lebih bagus sebelum hasil belajar sampai ke tangan orang tua dan siswa.

Majulah pendidikan Indonesia, cerdaslah anak bangsa!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s