Perjalanan Sore Penuh Makna

Tuhan mengajar dan mendidik hambanya dengan berbagai cara. Sore kemarin, peristiwa yang saya alami terulang kembali. Kali ini perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah saya di bilangan Cinere. Rute yang rutin selalu saya lewati, Arteri Pondok Indah – Lebak Bulus – Karang Tengah Raya, tidak jauh sekitar 10 sampai 15 kilometer. Jarak yang telah biasa ditempuh saban hari bersama dua malaikat kecil.

Sore yang melelahkan karena bermacet ria, tak terasa sampai juga di Lebak Bulus. Namun tiba-tiba motor saya yang ringkih mesinnya mati mendadak. Dan, filing saya mengatakan kalau simerah kehausan, hingga mogok tidak mau jalan.Saat dibuka,benar adanya bensin telah kering, sementara pombensin masih jauh. Akhirnya bersama dua malikatku berjalan kaki menuju pom bensin. Si kecil tetap di atas motor karena kelelehan seharian di sekolah,sementara kakaknya jalan beriringan dengan saya yang terengah-engah mendorong si merah di tanjakan melewati perumahan mewah.

Saat dipersimpangn jalan, motor dan mobil seliweran ngebut dan tidak memberikan jalan saya untuk menyebrang. Beruntung akhirnya ada mobil bak terbuka pengangkut pasir, mungkin punya toko material, memberikan saya jalan. Sopir tersebut tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Ada orang baik dalam hati saya. Si kakak sudah mau menyerah, saya memberi semangat tinggal sedikit lagij sampai ke pom bensin. Padahal dia tahu pom bensin masih jauh,saya cuma senyum terenyuh saja melihat mukanya yang kelelahan. Ketika melewati jalan kejaksaan menuju perempatan jalan Lebak Bulus I, karena saya konsentrasi mendorong motor, tidak mendengar panggilan seseorang. Si kakak mencoleksaya dan memberi tahu ada yang memanggil.

Si Bapak yang tidak sempat saya tanyakan namanya, bertanya mengapa motor saya didorong apakah bannya bocor atau kehabisan bensin. Setelah mendengar penjelasan saya, si bapak menawarkan bantuannya membagi bensin dari motornya. Dan, dia sudah prepare dengan peralatan sederhana yang dibutuhkan jika kehabisan bensin, yakni selang kecil dan plasitk. Dia bilang dia selalu siapkan peralatan tersebut, berjaga-jaga jika ada pengendara motor lain yang senasib dengan saya. Luar biasa!

Hari ini saya bertemu 2 orang baik yang tidak saya kenal dan memberi keteladanan buat saya. Ya, keteladanan di samping niat baik yang saya yakin mereka ikhlas menolong saya. Sebagai seorang guru sudah sepatutnya keteladanan menjadi karakter utama yang dikedepankan dan dapat menjadi barometer bagi siswanya.

Semoga guru Indonesia menjadi model yang baik buat anak bangsa kita. Seperti guru-guru saya yang mungkin sekarang sedang bercengkrama dengan Alloh di alam sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s